DAARUL MUAQAAMAH

RENUNGAN SANG BEJADZ

Di bawah temaram lampu2 kota

Yang berpijar da ri sudut2 jalan
Aku coba cari cahaya bintang
Di ujung cakrawala….
Untuk aku sematkan di belahan dada

Sebagai pijar dalam kegelapan petak2 jiwa

Namun,,,percuma!!!??

Mendung begitu hitam mencekam
Menutup garis cahaya gumintang
Hingga tak mungkin dapat aku temui
Satu pijarpun dalam tatapan mata

Akhirnya….
Aku hanya bisa terpaku
Mencoba menikmati kegelapan cakrawala
Dan dalam khusyu’ tadabburku

Dapat aku rasakan….

Sungguh,,,masih begitu indah ciptaan Allah
Tanpa hadirnya ciptaan yang lain
Begitulah jiwaku…..

Akan selalu ramai dengan keindahan
Walaupun aku belum mendapat keindahan
Yang aku inginkan

Karena,,dalam setiap kehendaknya

Tersimpan berjuta kebijaksanaan

Untuk kita renungkan…

Lalu,,,nikmat Allah yang mana
Yang kita ragukan???


MENGAPA AKU HIDUP

Aku hidup di masa yang aku benci,
Yang menjadi masa yang menyenangkan bagi manusia lainnya.
Dimana manusia menjadi sangat bodoh dan tak peduli pada alam sekitarnya.
Matahari yang dulu begitu hangat membelaiku dengan sinarnya,
Kini terasa sangat panas dan membakar kulitku.
Di gunung, di lembah dan di antara bukit tinggi menjulang,
Tak lagi dingin dan menyejukkan hati.
Hutan yang dulu hijau asri tempatku berteduh,
Kini telah tandus dan pohonnya tak lagi tumbuh.
Pantai yang dulu tempat bermain menyenangkan bagiku,
Dengan ombak biru dan pasir putihnya yang berkilauan,
Kini penuh dengan sampah dan bau busuk menyengat.
Udara yang dulu begitu segar dalam hirupanku,
Kini terasa menyesakkan dadaku.
Dan mata air yang dulu jernih mengalir sepanjang sungai,
Kini telah tercemar dan terasa gatal bagi tubuhku.
Kebodohan apa lagi yang kan manusia lakukan??

AKU INGIN

Aku ingin bisu dari tajamnya lidah yg berkata dusta,
Aku ingin buta dari cantiknya dunia yg fana & hanya sementara,
Aku ingin tuli dari setiap perkataan buruk yg kudengar,
Aku ingin lumpuh dari setiap langkah kaki yg membawaku kejalan yg tak Kau ridhoi,
Aku ingin mati dari rasa iri,dengki & prasangka buruk yg akan menghitamkan hati,
Raga hanyalah penjara yg mengekang Jiwa.
Raga…., kau tak bisa mengekang jiwa selamanya,
Bukankah tanpa jiwa kau hanyalah sampah?
Ketika mulut terkunci & tak lagi bisa bicara,
Mata tak lagi bisa melihat,
Telinga tak lagi bisa mendengar,
Hidung tak lagi bisa bernafas,
Hati tak lagi bisa berprasangka.
Ketika tangan tak sanggup lagi memberi & menerima,
Kaki tak sanggup lagi melangkah.
Saat itulah perpisahan tiba.
Sungguh, hanya padaMu lah tempat bagi jiwa untuk kembali.

%d blogger menyukai ini: